Tawaf Wada, Perpisahan yang Paling Menyakitkan bagi Jemaah. Benarkah Harus Jalan Mundur?
- byNaswa
- 03 Agustus 2026
CERITABAITULLAH - Ada satu momen yang hampir selalu membuat hati jemaah terasa berat ketika berada di Tanah Suci. Bukan saat pertama kali melihat Kabah, bukan pula ketika menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah umrah atau haji. Melainkan ketika tiba waktunya melaksanakan Tawaf Wada, tawaf perpisahan sebelum meninggalkan Kota Makkah.
Tujuh putaran terakhir itu sering kali dipenuhi air mata. Setelahnya, langkah kaki harus mulai menjauh dari Baitullah. Tak sedikit jemaah yang berkali-kali menoleh ke arah Ka'bah, berharap dapat menyimpan pemandangan itu lebih lama di dalam ingatan. Bahkan, ada pula yang memilih berjalan mundur saat keluar dari Masjidil Haram karena merasa belum siap berpisah dengan rumah Allah.
Di dalam hati, doa yang terucap pun hampir sama.
"Ya Allah, jangan jadikan ini kunjungan terakhirku ke rumah-Mu. Undanglah aku kembali sebagai tamu-Mu."
Namun, di balik momen yang begitu mengharukan tersebut, masih banyak yang bertanya-tanya. Benarkah setelah Tawaf Wada kita dianjurkan keluar sambil berjalan mundur?
Apa Itu Tawaf Wada?
Secara bahasa, wada' (وداع) berarti perpisahan. Sesuai namanya, Tawaf Wada merupakan tawaf perpisahan yang dilakukan sebelum meninggalkan Kota Makkah setelah menyelesaikan rangkaian ibadah haji. Dalam fikih, tawaf ini juga dikenal sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Baitullah sebelum kembali ke kampung halaman.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا يَنْفِرَنَّ أَحَدٌ حَتَّى يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِ بِالْبَيْتِ
"Janganlah seseorang meninggalkan Makkah hingga amalan terakhirnya adalah (tawaf) di Baitullah." (HR. Muslim no. 1327)
Hadis ini menjadi dasar disyariatkannya Tawaf Wada bagi jamaah yang diwajibkan melaksanakannya.
Mengapa Tawaf Wada Begitu Menguras Air Mata?
Tidak sedikit jemaah yang mengaku, justru Tawaf Wada menjadi momen paling berat selama berada di Tanah Suci. Jika saat pertama kali melihat Kabah seseorang menangis karena rasa syukur, maka saat Tawaf Wada air mata itu berubah menjadi rasa haru karena harus berpisah.
Selama beberapa hari atau bahkan beberapa pekan, Masjidil Haram menjadi tempat terbaik untuk berdoa, bersujud, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketika tawaf terakhir selesai, hati mulai sadar bahwa perjalanan ini akan segera berakhir.
Karena itulah banyak jemaah yang melangkah perlahan. Ada yang terus memandang Kabah hingga tak terlihat lagi, ada pula yang tak mampu membendung tangis karena belum tahu apakah Allah akan kembali mengundangnya ke Tanah Suci di masa mendatang.
Mengapa Banyak Jemaah Berjalan Mundur?
Salah satu pemandangan yang cukup sering ditemui setelah Tawaf Wada adalah jemaah yang keluar dari Masjidil Haram sambil berjalan mundur. Sebagian melakukannya karena merasa tidak ingin membelakangi Kabah. Ada pula yang mengikuti kebiasaan jemaah lain karena mengira hal tersebut merupakan bagian dari tata cara Tawaf Wada. Bagi sebagian orang, berjalan mundur dianggap sebagai simbol penghormatan terakhir kepada Baitullah sebelum meninggalkan Makkah.
Benarkah Berjalan Mundur Dianjurkan?
Meski cukup sering dilakukan, tidak ada riwayat sahih yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW maupun para sahabat keluar dari Masjidil Haram dengan berjalan mundur setelah menyelesaikan Tawaf Wada.
Konsultan Pembimbing Ibadah Haji Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Makkah, KH. Muhammad Muchtar Ilyas, juga pernah menjelaskan bahwa kebiasaan berjalan mundur lebih berangkat dari pemahaman bahwa seseorang yang berpamitan sebaiknya tidak membelakangi pihak yang dipamiti. Namun, beliau menegaskan bahwa praktik tersebut bukan bagian dari syariat Tawaf Wada.
Artinya, yang disyariatkan adalah menjadikan Tawaf Wada sebagai amalan terakhir sebelum meninggalkan Makkah. Setelah itu, jemaah dapat keluar dari Masjidil Haram seperti biasa.
Sesekali menoleh ke arah Ka'bah karena rasa rindu tentu merupakan hal yang manusiawi. Namun, tidak perlu memaksakan diri berjalan mundur, apalagi jika kondisi di sekitar Masjidil Haram sedang padat dan berpotensi membahayakan diri sendiri maupun jemaah lain.
Karena pada dasarnya, mengikuti tuntunan Rasulullah SAW jauh lebih utama dibanding melakukan kebiasaan yang tidak memiliki dasar dalam syariat.
Perpisahan yang Sesungguhnya Ada di Dalam Hati
Tawaf Wada bukan sekadar mengakhiri rangkaian ibadah. Lebih dari itu, tawaf ini menjadi pengingat bahwa setiap pertemuan dengan Baitullah pasti akan diikuti oleh perpisahan. Namun, bagi seorang mukmin, perpisahan bukanlah akhir dari segalanya.
Justru saat meninggalkan Masjidil Haram, kerinduan kepada Kabah mulai tumbuh semakin kuat. Kerinduan itulah yang membuat banyak jemaah terus berdoa agar suatu hari nanti Allah kembali memanggil mereka menjadi tamu-Nya. Bukankah Allah SWT telah berfirman:
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
"Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus. Mereka datang dari segenap penjuru yang jauh." (QS. Al-Hajj: 27)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap tamu Allah datang karena panggilan-Nya. Maka, jika hari ini harus berpisah dengan Baitullah, semoga Allah pula yang kembali mempertemukan kita dengannya.
"Ya Allah, jangan jadikan ini kunjungan terakhir kami ke rumah-Mu. Terimalah seluruh amal ibadah kami dan undanglah kami kembali sebagai tamu-Mu pada waktu terbaik menurut-Mu."
Baca Juga: Takut Nyasar di Makkah? Arab Saudi Kini Punya Aplikasi Hudhud untuk Bantu Jamaah Umrah
Rencanakan Perjalanan Ibadah Bersama Baitullah.co.id
Setiap perjalanan ke Tanah Suci tentu membutuhkan persiapan yang matang, mulai dari memilih travel hingga menentukan waktu keberangkatan yang sesuai.
Temukan berbagai pilihan paket umrah, umrah plus, haji khusus, dan wisata halal dari travel terpercaya hanya di Baitullah.co.id. Sahabat dapat melihat berbagai paket, fasilitas, jadwal keberangkatan, hingga harga dengan lebih mudah dalam satu platform. Semoga Allah SWT memudahkan langkah kita semua untuk kembali menjadi tamu-Nya di Baitullah. Aamiin.








