Cerita Baitullah Kumpulan artikel-artikel islami untuk kamu baca dan menambah wawasan dalam mengenal islam.

Mengapa Ghibah Disebut Lebih Buruk daripada Memakan Bangkai Saudara? Ini Penjelasan Al-Quran

Sumber: Bloomco

CERITABAITULLAHPernahkah Anda berada dalam sebuah obrolan yang awalnya terasa biasa, tetapi tanpa sadar berubah menjadi pembicaraan tentang keburukan orang lain? Situasi seperti ini sangat mudah ditemui, baik saat berkumpul bersama teman, di lingkungan kerja, bahkan di media sosial.

Sering kali ghibah dianggap sebagai hal yang sepele. Padahal, Islam memberikan peringatan yang sangat keras terhadap perbuatan ini. Bahkan, Allah SWT mengibaratkan ghibah seperti memakan bangkai saudara sendiri. Perumpamaan tersebut bukan tanpa alasan. Ada hikmah besar yang ingin Allah tanamkan kepada setiap Muslim agar lebih berhati-hati dalam menjaga lisannya.

Lalu, mengapa ghibah disamakan dengan perbuatan yang begitu menjijikkan?

Apa Itu Ghibah?

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menjelaskan makna ghibah dengan sangat jelas.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, "Tahukah kalian apa itu ghibah?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." 

Beliau bersabda, "Engkau menyebut tentang saudaramu sesuatu yang tidak ia sukai." (HR. Muslim)

Ketika para sahabat bertanya, "Bagaimana jika apa yang saya katakan memang benar ada pada dirinya?" Beliau menjawab, "Jika benar ada padanya, maka engkau telah mengghibahnya. Jika tidak benar, maka engkau telah memfitnahnya." (HR. Muslim)

Dari hadits ini, dapat dipahami bahwa ghibah bukanlah kebohongan. Justru, yang dibicarakan adalah sesuatu yang memang benar, tetapi orang tersebut tidak suka jika hal itu diceritakan kepada orang lain.

Allah Mengibaratkan Ghibah seperti Memakan Bangkai Saudara

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

 

Latin:

Yā ayyuhallażīna āmanūjtanibū kaṡīram minaẓ-ẓanni inna ba‘ḍaẓ-ẓanni iṡm, wa lā tajassasū wa lā yaghtab ba‘ḍukum ba‘ḍā. A yuḥibbu aḥadukum ay ya`kula laḥma akhīhi maitan fakarihtumūh, wattaqullāh, innallāha tawwābur raḥīm.

Artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."
(QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini menunjukkan betapa besarnya dosa ghibah. Allah menggunakan perumpamaan yang sangat kuat agar manusia benar-benar merasakan betapa buruknya perbuatan tersebut.

Baca Juga, Dzikir yang Dianjurkan Saat Menunggu Waktu Salat di Masjidil Haram

Mengapa Perumpamaannya Sangat Keras?

Para ulama menjelaskan bahwa perumpamaan ini memiliki makna yang mendalam.

Orang yang Digunjing Tidak Bisa Membela Diri

Seseorang yang sedang tidak berada di tempat tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan atau membela dirinya. Kondisi ini diibaratkan seperti orang yang telah meninggal, tidak mampu memberikan respons atas apa yang dilakukan kepadanya.

Ghibah Merusak Kehormatan

Dalam Islam, menjaga kehormatan seorang Muslim merupakan hal yang sangat penting. Ketika seseorang menjadi bahan pembicaraan, nama baiknya dapat tercemar meskipun apa yang dibicarakan benar adanya.

Menumbuhkan Permusuhan

Banyak perselisihan berawal dari ucapan yang tidak dijaga. Ghibah dapat merusak persahabatan, hubungan keluarga, bahkan memutus tali silaturahmi yang telah terjalin lama.

Bentuk Ghibah yang Sering Tidak Disadari

Di era digital, ghibah tidak hanya terjadi melalui percakapan langsung.

Beberapa contoh yang sering dianggap biasa antara lain:

  • Membicarakan kekurangan teman di grup percakapan.
  • Menyebarkan cerita buruk seseorang tanpa kebutuhan yang dibenarkan syariat.
  • Memberikan komentar yang merendahkan di media sosial.
  • Mengolok penampilan, pekerjaan, atau kehidupan pribadi orang lain.
  • Membagikan informasi pribadi seseorang yang membuatnya malu.

Karena itu, menjaga lisan juga berarti menjaga apa ang kita tulis dan bagikan di dunia digital.

Bagaimana Cara Menghindari Ghibah?

Menjauhi ghibah memang tidak selalu mudah, tetapi ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan.

1. Berpikir Sebelum Berbicara

Tanyakan kepada diri sendiri, apakah ucapan tersebut bermanfaat atau justru menyakiti orang lain?

2. Alihkan Pembicaraan

Jika sebuah percakapan mulai mengarah pada ghibah, cobalah mengubah topik ke pembahasan yang lebih bermanfaat.

3. Perbanyak Mengingat Allah

Hati yang selalu mengingat Allah akan lebih mudah menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik.

4. Introspeksi Diri

Daripada sibuk membicarakan kekurangan orang lain, lebih baik memperbaiki kekurangan diri sendiri.

Baca Juga, Puasa Daud, Puasa Sunnah yang Paling Dicintai Allah SWT, Ini Keutamaan dan Niatnya

Menjaga Lisan adalah Tanda Keimanan

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Latin:

Man kāna yu`minu billāhi wal-yaumil ākhiri falyaqul khairan aw liyashmut.

Artinya:

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi pengingat bahwa salah satu tanda keimanan adalah kemampuan menjaga ucapan. Tidak semua yang kita ketahui harus disampaikan, apalagi jika hanya akan menyakiti hati orang lain.

Ghibah mungkin terlihat sebagai dosa yang ringan karena hanya dilakukan melalui ucapan. Namun, Al-Qur'an menunjukkan bahwa dampaknya sangat besar hingga diibaratkan seperti memakan bangkai saudara sendiri. Perumpamaan ini mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan sesama Muslim, mempererat persaudaraan, dan mengendalikan lisan.

Di tengah kehidupan yang serba cepat dan derasnya arus informasi, setiap Muslim perlu lebih bijak dalam berbicara maupun menulis. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita agar lisan dan hati selalu terjaga dari perkataan yang tidak bermanfaat serta termasuk hamba-hamba yang gemar memperbaiki diri.

Menjaga lisan adalah bagian dari ikhtiar menyempurnakan akhlak seorang Muslim. Begitu pula ketika Allah memberikan kesempatan untuk menjadi tamu-Nya di Tanah Suci, perjalanan umrah bukan hanya tentang mengunjungi tempat yang mulia, tetapi juga menjadi momen untuk memperbaiki hati, memperbanyak istighfar, dan meninggalkan kebiasaan yang tidak diridhai, termasuk ghibah.

Jika Anda sedang merencanakan ibadah umrah atau ingin berkonsultasi mengenai persiapan, jadwal keberangkatan, maupun memilih paket yang sesuai, jangan ragu menghubungi Tanya Ummi melalui WhatsApp di 08170077070. InsyaAllah, tim Baitullah siap mendampingi perjalanan ibadah Anda dengan hangat dan penuh perhatian.