Cerita Baitullah Kumpulan artikel-artikel islami untuk kamu baca dan menambah wawasan dalam mengenal islam.

Khabbab bin Al-Aratt, Sahabat Rasul yang Disiksa Demi Keimanan

Khabbab bin Al-Aratt, Sahabat Rasul yang Disiksa Demi Keimanan

BAITULLAH.CO.ID – Khabbab bin Al-Aratt adalah seorang sahabat Nabi
Muhammad SAW yang memeluk Islam pada masa-masa awal dakwah. Sebagai seorang pandai besi di Mekah, ia dikenal dengan keterampilannya dalam membuat pedang. Namun, setelah masuk Islam, hidupnya berubah menjadi penuh penderitaan. Khabbab termasuk dalam golongan kaum mustadh’afin, orang-orang lemah yang sering menjadi sasaran kekejaman kaum Quraisy.

Baca Juga: Apa Itu Wisata Halal? Yuk, Kenali dan Rasakan Pengalaman Traveling Sesuai Syariat Islam!

Khabbab adalah budak seorang wanita Quraisy bernama Ummu Anmar. Ketika mengetahui Khabbab memeluk Islam, Ummu Anmar sangat murka. Ia memerintahkan penyiksaan terhadap Khabbab agar meninggalkan Islam. Pada suatu hari, Ummu Anmar dengan marah mendatangi Khabbab. 

“Khabbab! Kembalilah kepada agama nenek moyangmu, atau kau akan merasakan siksaan yang lebih berat lagi!” hardiknya dengan penuh amarah. 

Namun, dengan tenang dan penuh keyakinan, Khabbab menjawab, “Aku tidak akan pernah kembali kepada kekafiran. Aku beriman kepada Allah yang Esa dan Muhammad sebagai utusan-Nya.” 

Jawaban itu membuat Ummu Anmar semakin marah. Ia memerintahkan agar Khabbab diseret ke tengah padang pasir yang panas. Di bawah terik matahari, Khabbab dibaringkan di atas pasir yang membara. Punggungnya ditindih dengan batu besar, sementara bara dari besi yang dipanaskan di tungku ditempelkan ke kulitnya. 

Dalam kondisi itu, mereka memaksa Khabbab untuk mengingkari keimanannya. “Katakan bahwa Tuhanmu adalah Latta dan Uzza, maka kami akan menghentikan ini!” 

Namun Khabbab tetap kokoh dalam keyakinannya. Dengan suara lirih namun tegas, ia berkata, “Latta dan Uzza adalah berhala. Tuhanku hanya Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya. Aku tidak akan pernah menyekutukan-Nya.” 

Punggung Khabbab terbakar, dan bau dagingnya yang hangus tercium. Namun ia tidak pernah mengeluh atau menyerah. Bahkan di tengah siksaan yang berat, hatinya tetap kokoh dengan keimanan. 

Suatu hari, Khabbab datang kepada Rasulullah SAW. Dengan penuh kesedihan, ia mengadu tentang penderitaan yang dialaminya. “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau berdoa kepada Allah agar menolong kami dari siksaan ini?” katanya. 

Rasulullah SAW memandangnya dengan kasih, lalu bersabda, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian ada yang digergaji tubuhnya hingga terbelah dua, namun itu tidak menggoyahkan keimanannya. Mereka juga disisir dengan sisir besi hingga dagingnya terkelupas dari tulangnya, tetapi tetap tidak meninggalkan agamanya. Demi Allah, Allah akan menyempurnakan agama ini hingga seorang pengendara dapat bepergian dari Shan’a ke Hadramaut tanpa rasa takut kecuali kepada Allah. Tetapi kalian terburu-buru.” 

Share:
twitter