Begadang Nonton Piala Dunia sampai Lewat Salat Subuh, Gimana Hukumnya dalam Islam?
- byNaswa
- 06 Juli 2026
CERITABAITULLAH - Piala Dunia 2026 lagi jadi tontonan yang ditunggu-tunggu para pecinta sepak bola. Karena jadwal pertandingannya banyak yang berlangsung dini hari, nggak sedikit orang rela begadang demi menyaksikan tim favoritnya bertanding secara langsung. Namun, di balik serunya menonton pertandingan, ada satu hal yang juga sering terjadi, yakni bangun kesiangan hingga salat Subuh terlewat.
Fenomena ini sebenarnya bukan hanya terjadi saat Piala Dunia. Ada yang begadang karena lembur bekerja, menyelesaikan tugas kuliah, maraton menonton film atau drama, bermain gim, hingga terlalu lama bermain media sosial. Apa pun alasannya, sebagai seorang muslim kita tetap perlu menjaga salat lima waktu yang telah diwajibkan Allah SWT. Lalu, bagaimana hukum orang yang ketinggalan salat Subuh karena begadang? Apakah semuanya berdosa? Berikut penjelasannya.
Salat Wajib Dilaksanakan pada Waktunya
Salat merupakan ibadah wajib yang memiliki waktu pelaksanaan yang sudah ditentukan. Allah SWT berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
Artinya: "Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa: 103)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa setiap salat memiliki batas waktu yang harus dijaga. Karena itu, seorang muslim tidak boleh sengaja mengabaikannya tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat.
Begadang hingga Melewatkan Salat Subuh, Apakah Berdosa?
Jawabannya bergantung pada penyebabnya. Jika seseorang sengaja begadang untuk aktivitas yang tidak mendesak, seperti terus menonton pertandingan, maraton film, bermain gim, atau scrolling media sosial hingga larut malam, padahal ia sudah mengetahui kebiasaannya sulit bangun Subuh, maka ia termasuk orang yang lalai dalam menjaga kewajiban salat.
Allah SWT berfirman:
فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
Artinya: "Kemudian datanglah setelah mereka generasi pengganti yang menyia-nyiakan salat dan mengikuti hawa nafsu. Maka mereka kelak akan menemui kesesatan." (QS. Maryam: 59)
Ayat ini menjadi pengingat agar kesenangan dunia tidak membuat kita lalai menjalankan perintah Allah SWT. Menonton Piala Dunia, film, atau melakukan aktivitas lain pada dasarnya diperbolehkan selama tidak membuat seseorang meninggalkan kewajiban.
Sementara itu, jika seseorang begadang karena alasan yang memang tidak bisa dihindari, seperti lembur bekerja, menjaga anggota keluarga yang sakit, atau kondisi darurat lainnya, lalu ia benar-benar tertidur hingga melewatkan salat Subuh, maka hukumnya berbeda. Islam melihat niat dan usaha seseorang, bukan hanya hasil akhirnya.
Baca Juga: Khazanah Aqidah Islam: Fondasi Keimanan dan Cara Menjaganya
Bagaimana Jika Benar-Benar Tertidur?
Islam memberikan keringanan bagi orang yang tertidur atau lupa sehingga tidak sempat melaksanakan salat tepat waktu. Rasulullah ﷺbersabda:
مَنْ نَسِيَ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا
Artinya: "Barang siapa lupa mengerjakan salat atau tertidur sehingga terlewat, maka kaffarahnya adalah mengerjakannya ketika ia mengingatnya." (HR. Muslim No. 684)
Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang benar-benar tertidur atau lupa tidak berdosa. Namun, ia tetap berkewajiban mengqadha salat tersebut segera setelah bangun atau ketika mengingatnya.
Meski demikian, hadits ini tidak dapat dijadikan alasan untuk sengaja begadang tanpa mempersiapkan diri agar bisa bangun Subuh. Jika seseorang sudah tahu dirinya sulit bangun, sebaiknya ia berusaha lebih dulu, misalnya dengan tidur lebih awal, memasang alarm, atau meminta bantuan orang lain untuk membangunkannya.
Salat Subuh Memiliki Keutamaan yang Besar
Salat Subuh termasuk salat yang memiliki banyak keutamaan. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ أَثْقَلَ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَالْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا
Artinya: "Sesungguhnya salat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah salat Isya dan salat Subuh. Seandainya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak." (HR. Bukhari No. 657 dan Muslim No. 651)
Hadits ini menunjukkan besarnya keutamaan salat Subuh. Karena itu, sudah sepatutnya seorang muslim berusaha menjaga salat ini meskipun harus mengorbankan sebagian aktivitas yang kurang penting di malam hari.
Cara Mengqadha Salat Subuh
Jika salat Subuh terlewat karena tertidur atau lupa, segera tunaikan salat tersebut setelah bangun.
Niat Qadha Salat Subuh
أُصَلِّي فَرْضَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ قَضَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
Ushallī farḍaṣ-ṣubḥi rak'ataini qaḍā'an lillāhi ta'ālā.
Artinya: "Saya berniat mengerjakan salat fardu Subuh dua rakaat secara qadha karena Allah Ta'ala."
Tips agar Tidak Ketinggalan Salat Subuh
Supaya tidak mengulangi kesalahan yang sama, ada beberapa ikhtiar yang bisa dilakukan, di antaranya:
-
Tidur lebih awal jika mengetahui akan bangun sebelum Subuh.
-
Hindari begadang untuk aktivitas yang tidak terlalu penting.
-
Pasang alarm lebih dari satu.
-
Minta bantuan keluarga atau teman untuk membangunkan.
-
Berdoa kepada Allah SWT agar dimudahkan menjaga salat tepat waktu.
Baca Juga: Sholat Istikharah: Tata Cara, Waktu Terbaik, Bacaan Doa, dan Tanda Jawabannya
Menonton Piala Dunia, maraton film, bermain gim, atau bahkan lembur bekerja bukanlah sesuatu yang otomatis dilarang dalam Islam. Namun, jangan sampai aktivitas tersebut membuat kita lalai terhadap kewajiban yang jauh lebih penting, yaitu salat lima waktu.
Jika salat Subuh terlewat karena sengaja begadang tanpa alasan yang dibenarkan dan tanpa ikhtiar untuk bangun, maka hal tersebut termasuk bentuk kelalaian yang harus disesali dan diiringi dengan taubat kepada Allah SWT. Sebaliknya, jika seseorang benar-benar tertidur atau lupa meski sudah berusaha, maka ia tidak berdosa, tetapi tetap wajib segera mengqadha salatnya.
Sebagai seorang muslim, menjaga salat tepat waktu adalah bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Euforia Piala Dunia hanya berlangsung sementara, sedangkan menjaga hubungan dengan Allah adalah bekal yang akan terus kita bawa hingga akhir hayat.








