Cerita Baitullah Kumpulan artikel-artikel islami untuk kamu baca dan menambah wawasan dalam mengenal islam.

Maulid Nabi Muhammad SAW: Sejarah, Keutamaan, dan Amalan yang Bisa Dilakukan

Foto: Freepik- sandaruartgallery

CERITABAITULLAH - Setiap memasuki bulan Rabiul Awal, umat Islam di berbagai daerah mulai menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Momen ini menjadi kesempatan untuk kembali mengingat kelahiran Rasulullah SAW, mengenal perjalanan hidup beliau, serta menumbuhkan rasa cinta kepada sosok yang menjadi teladan bagi seluruh umat Islam.

Maulid Nabi tidak hanya diisi dengan perayaan, tetapi juga dapat menjadi momentum untuk memperbanyak sholawat, membaca Al-Qur’an, mempelajari sirah Nabi, bersedekah, dan berusaha meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Lantas, bagaimana sejarah Maulid Nabi dan apa saja amalan yang bisa dilakukan?

 

Sejarah Singkat Maulid Nabi Muhammad SAW

Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan peringatan kelahiran Rasulullah SAW yang umumnya diperingati setiap 12 Rabiul Awal. Meski demikian, terdapat perbedaan pendapat mengenai tanggal pasti kelahiran Rasulullah SAW dan cara memperingatinya di berbagai wilayah.

Secara historis, tradisi peringatan Maulid berkembang beberapa abad setelah Rasulullah SAW wafat. Salah satu catatan sejarah menyebutkan bahwa peringatan Maulid mulai dikenal pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir, kemudian berkembang di berbagai wilayah Muslim.

Di Nusantara, Maulid Nabi kemudian menjadi bagian dari tradisi keislaman masyarakat. Bentuknya pun beragam, mulai dari pengajian, pembacaan sirah Nabi dan sholawat, hingga kegiatan berbagi makanan dan sedekah.

Perlu diketahui, hukum memperingati Maulid Nabi menjadi persoalan yang memiliki perbedaan pandangan di kalangan ulama. Karena itu, umat Islam hendaknya mengikuti pendapat ulama yang dipercaya dan memastikan kegiatan Maulid tidak diisi dengan hal-hal yang bertentangan dengan syariat.

Baca Juga: Satu Kebiasaan Sederhana yang Bisa Mengubah Cara Kita Menjalani Hari Menjadi Lebih Tenang dan Bermakna

 

Maulid Nabi dan Perintah Mencintai Rasulullah SAW

Salah satu dasar penting dalam membangun kecintaan kepada Rasulullah SAW adalah firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: "Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali 'Imran: 31)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa mencintai Rasulullah SAW bukan hanya tentang mengagumi beliau, tetapi juga dengan mengikuti ajaran dan teladan yang beliau ajarkan.

Karena itu, Maulid Nabi dapat menjadi momentum untuk kembali mengenal Rasulullah SAW dan menerapkan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.

 

5 Amalan yang Bisa Dilakukan Saat Maulid Nabi

1. Memperbanyak Membaca Sholawat

Sholawat menjadi salah satu amalan yang sangat dekat dengan peringatan Maulid Nabi. Allah SWT sendiri memerintahkan orang-orang beriman untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56)

Membaca sholawat bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk menunjukkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

 

2. Membaca Al-Qur'an

Maulid Nabi juga dapat diisi dengan memperbanyak membaca Al-Qur'an. Bukan hanya karena membaca Al-Qur'an merupakan ibadah, tetapi juga karena banyak ajaran Rasulullah SAW yang dapat kita pahami melalui Al-Qur'an.

Rasulullah SAW bersabda:

اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

Artinya: "Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang-orang yang membacanya." (HR. Muslim)

 

3. Mempelajari Sirah dan Akhlak Rasulullah SAW

Mengenal Rasulullah tidak cukup hanya dengan mengetahui nama dan tanggal kelahiran beliau. Kita juga perlu mengenal bagaimana beliau menjalani kehidupan, memperlakukan keluarga, bermuamalah dengan orang lain, hingga menghadapi berbagai ujian dalam dakwah.

Dengan mempelajari sirah Nabi, kita bisa menemukan banyak teladan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya: "Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab: 21)

 

4. Bersedekah dan Berbagi dengan Sesama

Menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah juga dapat diwujudkan melalui perbuatan baik kepada sesama. Di bulan Rabiul Awal, umat Islam dapat memperbanyak sedekah, berbagi makanan, membantu orang yang membutuhkan, mengunjungi orang sakit, atau melakukan berbagai bentuk kebaikan lainnya.

Hal ini juga sejalan dengan salah satu sifat Rasulullah SAW yang dikenal memiliki kasih sayang dan kepedulian yang besar terhadap umatnya.

 

5. Mengikuti Kajian atau Majelis Ilmu

Mendengarkan kajian, membaca kisah kehidupan Rasulullah, atau mengikuti majelis ilmu juga dapat menjadi cara untuk mengisi momentum Maulid Nabi. Dengan begitu, peringatan Maulid tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi kesempatan untuk menambah pengetahuan dan memperbaiki diri.

Allah SWT berfirman:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya: "Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran: 104)

 

Baca Juga: Doa Istikharah: Bacaan, Tata Cara, dan Keutamaan Memohon Pilihan Terbaik kepada Allah

Salah satu hadis yang sering dikaitkan dengan kelahiran Rasulullah SAW adalah ketika beliau ditanya mengenai puasa hari Senin.

Rasulullah SAW bersabda:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ

Artinya:"Itu adalah hari aku dilahirkan." (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengaitkan hari Senin dengan kelahiran beliau ketika menjelaskan alasan beliau berpuasa pada hari tersebut.

Karena itu, momentum Maulid dapat menjadi pengingat bagi umat Islam untuk bersyukur atas diutusnya Rasulullah SAW, memperbanyak sholawat, serta mengikuti sunnah dan akhlak beliau.

 

Jangan Jadikan Maulid Hanya Sebagai Perayaan

Hal terpenting dari memperingati Maulid Nabi adalah bagaimana rasa cinta kepada Rasulullah SAW dapat membawa perubahan dalam kehidupan kita.

Mengenal kisah beliau seharusnya membuat kita semakin ingin mengikuti akhlaknya. Membaca sholawat seharusnya mengingatkan kita kepada sosok yang kita cintai. Dan mempelajari sirah beliau seharusnya membuat kita semakin memahami bagaimana seorang Muslim menjalani kehidupan.

Dengan begitu, semangat Maulid Nabi tidak hanya terasa ketika bulan Rabiul Awal, tetapi juga terus terbawa dalam kehidupan sehari-hari.

 

Maulid Nabi, Momentum untuk Lebih Dekat dengan Rasulullah SAW

Maulid Nabi Muhammad SAW dapat menjadi momentum untuk kembali mengingat sosok Rasulullah SAW dan memperkuat kecintaan kepada beliau. Ada banyak cara yang bisa dilakukan, mulai dari membaca sholawat, Al-Qur'an, mempelajari sirah Nabi, mengikuti kajian, hingga berbagi dan membantu sesama.

Pada akhirnya, kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup hanya diucapkan, tetapi juga perlu diwujudkan dengan mengikuti ajaran dan meneladani akhlaknya.

Semoga momentum Maulid Nabi tahun ini menjadi pengingat bagi kita untuk semakin mengenal Rasulullah SAW, memperbanyak selawat, dan berusaha menjadi umat yang lebih baik.