Cerita Baitullah Kumpulan artikel-artikel islami untuk kamu baca dan menambah wawasan dalam mengenal islam.

Kisah Akhir Hidup Abu Nawas, Pujangga Arab yang Jasadnya Hampir Tidak Diurus

Kisah Akhir Hidup Abu Nawas, Pujangga Arab yang Jasadnya Hampir Tidak Diurus

BAITULLAH.CO.ID – Abu Nawas, seorang penyair legendaris asal Persia, dikenal sebagai sosok yang penuh kontroversi. Namanya harum karena kecerdasannya dalam menciptakan syair yang indah dan penuh makna. Namun, gaya hidupnya semasa hidup sering membuat orang berpandangan negatif. Abu Nawas dikenal sebagai peminum khamar dan pelaku maksiat, sehingga reputasinya sebagai seorang Muslim dianggap kurang baik oleh banyak ulama pada masanya. 

Baca Juga: 6 Cara Mudah Menjaga Daya Tahan Tubuh Saat Musim Hujan

Ketika berita wafatnya Abu Nawas sampai kepada Imam Syafi’i, beliau menolak untuk terlibat dalam pengurusan jenazah Abu Nawas. Sebagai seorang ulama besar, Imam Syafi’i tentu merasa berat hati untuk ikut menyolatkan seseorang yang kehidupannya penuh dosa di mata manusia. Namun, segala sesuatu berubah ketika sebuah syair ditemukan di bawah bantal Abu Nawas. 

Syair tersebut tertulis dengan bahasa yang begitu indah dan penuh dengan pengakuan dosa serta harapan akan rahmat Allah. Berikut adalah isi syair tersebut: 
 
“Wahai Tuhanku, dosa-dosaku begitu besar, namun ampunan-Mu lebih agung. 
Jika hanya orang baik yang boleh berharap pada-Mu, lalu kepada siapa orang seperti aku harus berharap? 
Aku memohon kepada-Mu dengan penuh kerendahan hati, 
Jika Engkau menolak permohonanku, kepada siapa lagi aku harus berlindung? 
Rahmat-Mu begitu luas, jauh melebihi dosa-dosaku, 
Ampunilah aku, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.”
 
Mendengar isi syair itu, Imam Syafi’i menangis tersedu-sedu. Beliau menyadari bahwa di balik semua dosa yang dilakukan Abu Nawas, ada hati yang penuh dengan rasa takut kepada Allah dan pengharapan yang tulus akan ampunan-Nya. Syair itu menggambarkan betapa dalam penyesalan Abu Nawas terhadap kesalahan-kesalahannya, sekaligus keyakinannya akan luasnya rahmat Allah. 

Imam Syafi’i kemudian bergegas menuju tempat jenazah Abu Nawas dan ikut serta dalam pengurusan jenazahnya. Beliau memimpin shalat jenazah dengan penuh keikhlasan dan memohonkan ampunan untuk sang penyair. 

Kisah ini menjadi pelajaran besar bagi banyak orang. Allah tidak menilai seseorang hanya dari dosa-dosanya, tetapi dari ketulusan hati dalam bertaubat. Rahmat dan ampunan-Nya melampaui segala dosa, asalkan manusia benar-benar mau kembali kepada-Nya. 

Baca Juga: Kisah Muthi'ah Pemegang Tali Kendaraan Fatimah binti Rasulullah SAW

Hingga hari ini, nama Abu Nawas tetap dikenang, bukan hanya sebagai penyair yang cerdas, tetapi juga sebagai bukti nyata betapa besar kasih sayang Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Syair terakhirnya menjadi pengingat bahwa pintu taubat selalu terbuka, tidak peduli seberapa besar kesalahan kita di masa lalu. 

Share:
twitter