Cerita Baitullah Kumpulan artikel-artikel islami untuk kamu baca dan menambah wawasan dalam mengenal islam.

Kisah Gua Hira di Jabal Nur, Tempat Nabi Muhammad SAW Menerima Wahyu Pertama

Gua Hira yang berada di punack Jabal Nur, kota Makkah, sumber: pinterest

BAITULLAH.CO.ID - Di lereng Jabal Nur, sekitar enam kilometer dari kota Makkah, ada sebuah gua kecil dan sempit panjangnya hanya dua meter, lebarnya sekitar satu meter lebih sedikit. Di sinilah, dalam keheningan malam dan sejuknya udara gurun, sejarah besar umat manusia dimulai.

Gua itu bernama Gua Hira. Tempat sederhana ini menjadi saksi pertama kali turunnya wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Menurut BPKH (Kabar Haji), di sinilah awal mula Islam tumbuh.

Sebelum kenabian, Rasulullah SAW sering kali merasa resah melihat masyarakat Makkah yang terjebak dalam penyembahan berhala dan ketidakadilan, hatinya haus akan kebenaran. Maka beliau mulai melakukan uzlah atau menyendiri dan beribadah di Gua Hira. Dalam kesunyian itu, beliau merenungi ciptaan Allah, kebesaran alam, dan hakikat kehidupan.

Baca Juga: Umroh Mandiri atau Lewat Travel? Simak Dulu Sebelum Berangkat! 

 

Hingga suatu malam di bulan Ramadhan, ketika usia beliau menginjak 40 tahun, peristiwa besar pun terjadi. Menurut riwayat Aisyah r.a. yang tercantum dalam Shahih Bukhari dan Muslim (HR. Bukhari no. 4953; HR. Muslim no. 160), Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah SAW dan berkata: 

“Bacalah!” Nabi menjawab dengan gemetar, “Aku tidak bisa membaca.”

 

Jibril lalu memeluk beliau hingga terasa sesak di dada, lalu melepaskannya dan mengulang lagi,

“Bacalah!” Namun Rasulullah SAW tetap menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”

 

Hingga untuk ketiga kalinya Jibril memeluk dan melepaskannya, seraya berkata,

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1–5)

 

Malam itu, wahyu pertama turun tanda diangkatnya beliau sebagai Rasul Allah. Menurut DetikHikmah (2023), peristiwa ini diyakini terjadi pada 17 Ramadhan, di gua kecil yang kini disebut sebagai Jabal Nur (Gunung Cahaya), karena dari tempat inilah terpancar nur nubuwwah atau cahaya kenabian.

Namun pengalaman itu membuat Rasulullah SAW ketakutan. Dalam Fikih Sirah karya Said Ramadhan al-Buthy disebutkan, beliau bahkan sempat mengira bahwa yang menemuinya di gua adalah jin. Allah belum langsung menenangkan hatinya agar perbedaan antara Muhammad sebelum kenabian dan setelahnya benar-benar terlihat jelas.

 

Beliau segera pulang ke rumah dengan tubuh bergetar dan berkata kepada Khadijah r.a:

“Selimuti aku! Selimuti aku!” (HR. Bukhari)

 

Khadijah dengan lembut menenangkan suaminya, berkata:

“Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu. Engkau menyambung silaturahmi, menolong orang yang lemah, memuliakan tamu, dan membantu orang yang tertimpa kesulitan.”

 

Khadijah kemudian membawa Rasulullah SAW menemui Waraqah bin Naufal, seorang sepupu yang memahami kitab suci. Waraqah berkata:

“Sesungguhnya yang datang kepadamu adalah Namus (Jibril) yang juga datang kepada Musa. Andai aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu, niscaya aku akan menolongmu.” (HR. Bukhari no. 4953)

 

Sejak malam itu, segalanya berubah. Seorang manusia yang biasa, kini telah diutus sebagai Rasul Allah untuk menyampaikan wahyu kepada umat manusia. Lebih dari sekadar tempat sejarah, Gua Hira adalah simbol pencarian makna hidup. Di sanalah Rasulullah SAW menemukan ketenangan, keheningan, dan cahaya kebenaran. Setiap langkah menuju gua itu hari ini bukan sekadar wisata religi melainkan perjalanan hati untuk meneladani semangat Rasulullah SAW dalam mencari kebenaran, memperkuat keimanan, dan berani memulai perubahan.

twitter