Cerita Baitullah Kumpulan artikel-artikel islami untuk kamu baca dan menambah wawasan dalam mengenal islam.

Kisah Inspiratif Nenek Jumaria: Sang Ikon Kesabaran dari Maros di Musim Haji 1447 H

Kisah Nenek Asal Maros Berangkat Haji Usai Menabung Puluhan Tahun Kini Jadi Sorotan Dunia, sumber : Fajar National Network

CERITA BAITULLAH - Di tengah jutaan jamaah yang memadati tanah suci pada musim Haji 1447 H (2026 M), terselip satu sosok yang mencuri perhatian publik dan menjadi buah bibir di kalangan petugas maupun sesama jamaah. Beliau adalah Nenek Jumaria, seorang lansia bersahaja asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang kini dinobatkan sebagai ikon inspiratif bagi jamaah haji Indonesia tahun ini.

Penantian Panjang Selama 15 Tahun

Kisah Nenek Jumaria bukanlah tentang kekayaan yang melimpah, melainkan tentang keteguhan niat. Bekerja sebagai penjual sayur keliling di pasar tradisional Maros, Nenek Jumaria menyisihkan setiap lembar rupiah dari keuntungan dagangannya selama lebih dari satu dekade.

  • Menabung dari Nol: Beliau mulai menabung sejak tahun 2011.

  • Kesabaran Ekstra: Sempat tertunda keberangkatannya karena aturan pembatasan usia di tahun-tahun sebelumnya, namun beliau tidak pernah patah semangat.

  • Doa yang Terjawab: Di usia yang kini menginjak 78 tahun, namanya akhirnya masuk dalam daftar manifes keberangkatan Kloter Makassar tahun 1447 H.


Mengapa Beliau Menjadi Ikon?

Nenek Jumaria bukan sekadar jamaah lansia biasa. Beliau menjadi ikon karena beberapa alasan yang menyentuh hati banyak orang:

  1. Kemandirian yang Luar Biasa: Meski masuk kategori lansia, Nenek Jumaria dikenal sangat mandiri. Beliau menolak menggunakan kursi roda saat melakukan tawaf dan sa’i, seraya berucap bahwa kekuatannya datang langsung dari Allah SWT.

  2. Semangat "Siri' na Pacce": Membawa filosofi masyarakat Sulawesi Selatan, beliau menunjukkan ketangguhan mental dan rasa syukur yang tinggi selama berada di Madinah maupun Makkah.

  3. Keikhlasan Berbagi: Rekan satu kloternya bercerita bahwa Nenek Jumaria seringkali membagikan bekal makanan ringan (seperti bolu cukke dan baje) yang dibawanya dari Maros kepada jamaah dari negara lain yang ia temui di Masjidil Haram.

"Saya tidak punya harta banyak untuk dibagikan, tapi saya punya doa dan sedikit kue untuk menyambung persaudaraan di rumah Allah," ujar Nenek Jumaria saat diwawancarai oleh tim Media Center Haji.

Baca juga artikel kisah lainnya : Kisah Haji Rasulullah di Haji Wada yang Penuh Haru


Pesan Moral dari Maros ke Dunia

Kehadiran Nenek Jumaria di musim haji 1447 H memberikan pesan kuat bagi generasi muda: bahwa haji adalah panggilan hati, bukan sekadar kesiapan materi. Beliau membuktikan bahwa keterbatasan fisik dan ekonomi bisa dikalahkan oleh keyakinan yang bulat.

Kini, sosoknya sering menghiasi layar informasi di pemondokan jamaah sebagai simbol Haji Ramah Lansia. Pemerintah melalui Kementerian Agama memberikan apresiasi khusus atas semangat beliau yang menjadi penyemangat bagi jamaah lain yang lebih muda namun seringkali mengeluh karena cuaca panas.

Penutup

Nenek Jumaria telah kembali ke tanah air dengan predikat Haji Mabrur. Namun, jejak langkahnya di ubin marmer Masjidil Haram akan selalu dikenang sebagai pengingat bahwa dengan kesabaran, perjalanan menuju "Baitullah" yang mustahil sekalipun akan menjadi nyata.

Dari Maros untuk dunia, Nenek Jumaria mengajarkan kita bahwa niat yang tulus akan selalu menemukan jalanNya. Mari temukan paket umrah dan haji di Baitullah Indonesia

twitter