BAITULLAH.CO.ID - Masjid Nabawi merupakan salah satu masjid paling bersejarah dalam Islam karena dibangun langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Masjid yang berada di Kota Madinah ini juga menjadi masjid terbesar kedua di dunia dan termasuk tempat paling suci bagi umat Islam setelah Masjidil Haram.
Saat beribadah di Masjid Nabawi, jemaah sering melihat payung-payung besar yang terbentang di pelataran masjid. Payung ini sangat membantu, terutama bagi jemaah yang melaksanakan shalat di area luar masjid agar tetap terlindungi dari panas dan cuaca ekstrem. Selain fungsinya sebagai pelindung, payung Masjid Nabawi juga memiliki banyak keunikan menarik. Mulai dari jadwal buka-tutup hingga teknologi canggih di baliknya.
Kapan Payung Masjid Nabawi Dibuka dan Ditutup?
Berdasarkan informasi dari situs Prayer Times KSA, payung raksasa di Masjid Nabawi dibuka setiap hari setelah salat Subuh dan akan ditutup kembali setelah salat Magrib. Sistem pengoperasiannya sudah otomatis dan sangat canggih. Tidak hanya mengikuti waktu shalat, sistem ini juga mempertimbangkan beberapa faktor, seperti:
-
Posisi matahari
-
Kecepatan angin
-
Tingkat kelembaban udara
-
Perubahan jadwal shalat harian
Dengan teknologi tersebut, payung akan terbuka dan tertutup di waktu yang tepat sesuai kondisi lingkungan. Jika cuaca normal, payung biasanya terbuka mulai pagi sekitar pukul 07.00 hingga sore hari sekitar pukul 17.00. Proses buka dan tutup payung tidak selalu terlihat secara bersamaan karena hanya beberapa payung yang bergerak dalam satu waktu.
Keberadaan payung ini sangat membantu, terutama saat jumlah jemaah membludak. Banyak jemaah memilih shalat di halaman masjid, khususnya saat Subuh dan Magrib, sambil menyaksikan pemandangan payung raksasa yang sangat indah.
Baca Juga: Saudi Sanksi Perusahaan Umroh yang Menelantarkan Jemaah
Keunikan Payung Masjid Nabawi yang Menarik Diketahui
Berikut beberapa fakta menarik tentang payung raksasa di Masjid Nabawi:
1. Membuat Suhu Lebih Sejuk
Material payung dirancang khusus sehingga dapat menurunkan suhu di bawahnya hingga sekitar 8°C. Hal ini membuat jemaah tetap nyaman meski cuaca Madinah sangat panas.
2. Satu Payung Bisa Menampung Ratusan Jemaah
Setiap payung mampu menaungi sekitar 800 orang. Saat salat Jumat, Ramadan, atau hari besar Islam, area pelataran tetap bisa digunakan dengan nyaman.
3. Menjadi Inspirasi Masjid di Indonesia
Desain payung Masjid Nabawi menginspirasi banyak masjid di Indonesia, seperti Masjid Agung Jawa Tengah, Masjid Raya Baiturrahman Aceh, dan Masjid Ar-Rahman Blitar.
4. Tetap Aman Saat Hujan
Payung ini dilengkapi sistem pembuangan air sehingga hujan tidak menggenangi area salat. Jemaah tetap bisa beribadah dengan tenang meski cuaca hujan.
5. Gagasan dari Raja Abdullah
Pembangunan payung raksasa ini merupakan inisiatif Raja Abdullah bin Abdulaziz sebagai bentuk perhatian terhadap kenyamanan para peziarah Masjid Nabawi.
6. Bisa Bergerak Otomatis
Dengan tinggi hampir 20 meter, payung ini dapat membuka dan menutup sendiri tanpa bantuan manual. Sistemnya bekerja otomatis sesuai waktu dan kondisi cuaca.
7. Dikerjakan oleh Tim Internasional
Payung-payung ini mulai dipasang pada tahun 2010 melalui proyek besar bernama Medina Haram. Proyek ini melibatkan tim dari Arab Saudi, Jerman, dan Jepang untuk memastikan kualitas dan keamanannya.
8. Tahan Terhadap Angin Kencang
Payung Masjid Nabawi dilengkapi sensor angin. Jika kecepatan angin meningkat, sistem akan menyesuaikan pergerakan payung agar tetap aman, bahkan mampu bertahan hingga angin berkecepatan 155 km/jam.








