Meluruskan Sejarah: Mengungkap Fakta Makam di Masjid Jami Al-Mamur Tanah Abang
- byHilda Fatonah
- 17 Juni 2026
CERITA BAITULLAH - Bagi masyarakat Jakarta, khususnya di kawasan Tanah Abang, keberadaan Masjid Jami' Al-Ma'mur tentu sudah tidak asing lagi. Selain menjadi pusat ibadah, di area masjid ini terdapat sebuah makam yang sering kali menarik perhatian jamaah maupun peziarah. Makam tersebut tertulis sebagai makam "Syeikh Salim bin Sumair".
Namun, seiring berjalannya waktu, sering terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat mengenai asal-usul makam ini. Tidak sedikit orang yang mengira bahwa makam tersebut adalah makam seorang ulama besar (Habib atau Syeikh besar) yang memiliki karomah tertentu, hingga menjadikannya tempat untuk meminta berkah atau bahkan dikeramatkan secara berlebihan.
Untuk menghindari kekeliruan yang berlarut-larut, penting bagi kita semua untuk melihat fakta sejarah yang sebenarnya agar tidak terjebak dalam praktik yang menyimpang dari akidah.
Makam Warga Biasa dari Era 1900-an
Berdasarkan catatan dan penelusuran sejarah, makam Syeikh Salim bin Sumair yang berada di kawasan Masjid Jami' Al-Ma'mur Tanah Abang ini sebenarnya merupakan makam warga biasa atau penduduk setempat yang wafat pada era tahun 1900-an. Nama "Syeikh" atau "Salim bin Sumair" pada makam ini sering kali disalahartikan oleh peziarah awam karena kemiripan nama dengan tokoh-tokoh ulama besar terdahulu.
Pihak pengelola atau yayasan terkait, seperti yang tertera pada dokumen "Risalah Tentang Makam Syeikh Salim bin Sumair di Masjid Jami' Al-Ma'mur Tanah Abang Jakarta Pusat" yang diterbitkan oleh Yayasan Waqaf Masjid Jami' Al-Ma'mur Tanah Abang, terus berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai status makam tersebut agar tidak memicu salah paham.
Menjaga Akidah: Makam Bukan Tempat Meminta Berkah
Dalam ajaran Islam, ziarah kubur adalah amalan yang dianjurkan. Tujuan utamanya adalah untuk mengingatkan kita yang masih hidup akan kematian, serta untuk mendoakan keselamatan bagi si mayit agar diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT.
Namun, esensi ziarah ini sering kali bergeser ketika peziarah datang dengan niat "menyembah", mengultuskan, atau meminta berkah (tabarruk) yang tidak syar'i kepada penghuni kubur. Meminta kelancaran rezeki, jodoh, atau keselamatan kepada makam—siapa pun itu, terlebih makam warga biasa—adalah kekeliruan besar dalam bertauhid. Segala bentuk permohonan dan doa hanya boleh ditujukan secara langsung kepada Allah SWT.
baca artikel lainnya : Jendela di Masjid Nabawi Ini Selalu Terbuka, Bahkan Raja Arab Tak Berani Menutupnya
Kesimpulan
Makam Syeikh Salim bin Sumair di Tanah Abang adalah bagian dari sejarah lokal warga Jakarta di awal abad ke-20. Kita wajib menghormati keberadaan makam tersebut dengan cara mendoakan kebaikan bagi almarhum saat berada di sana.
Namun, mari kita luruskan niat dan pandangan kita. Makam ini bukanlah makam seorang Habib atau Syeikh besar yang memiliki otoritas spiritual untuk mendatangkan berkah. Mari hargai sejarah secara objektif dan tetap jaga kemurnian akidah kita dengan tidak mengkultuskan makam tersebut.






.jpg)

